Universitas Sebelas Maret (UNS) melalui tim Green Campus menyelenggarakan UNS Eco-Friendly School Award sebagai bentuk apresiasi kepada sekolah dasar yang peduli lingkungan dan menerapkan praktik keberlanjutan. Program yang dimulai pada tahun 2024 ini melibatkan sekolah dasar di wilayah eks-Karesidenan Surakarta. Pada 2025, kegiatan dimulai bulan Juni dengan sosialisasi, dilanjutkan pengisian instrumen melalui website (24 Juni–2 Agustus) disertai bukti foto. Penilaian dilakukan berdasarkan jawaban dan bukti unggahan, kemudian diverifikasi melalui visitasi ke sekolah untuk memastikan kesesuaian kondisi lapangan.
Setelah menyelesaikan kunjungan peserta UNS Eco-Friendly School Award (EFSA) di Kabupaten Sragen, pada hari kedua tim visitasi melanjutkan kegiatan dengan mengunjungi peserta EFSA di Kabupaten Boyolali (18/09/2025) dengan anggota tim yakni Dr. Agung Hidayat, S.Pd., M.Si., Ari Prasetyo, S.T., M.T., dan Zabilla Tomy Sanjaya, S.Si., M.Ling. Sekolah pertama yang dikunjungi adalah SDN 02 Ngenden, yang berlokasi di Kelurahan Ngenden, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali. Meskipun letaknya cukup jauh dari pusat kota, hal tersebut tidak mengurangi semangat sekolah dalam menjaga lingkungan sekaligus menanamkan pendidikan kepedulian lingkungan kepada para siswanya. Jumlah murid di SDN 02 Ngenden relatif sedikit dibandingkan dengan sekolah lainnya. Kondisi ini dipengaruhi oleh faktor lokasi, yakni jumlah penduduk di sekitar sekolah yang juga tidak terlalu banyak. Dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan, SDN 02 Ngenden mengembangkan berbagai inovasi, antara lain:
- Pemanenan air hujan untuk dimanfaatkan kembali.
- Pengolahan sampah organik menjadi pupuk kompos yang siap dijual.
- Pembuatan kebun sekolah yang dapat dimanfaatkan oleh guru dan murid.
- Pemanfaatan bekas galon air sebagai pot tanaman untuk penghijauan lingkungan sekolah.
- Pemasangan lampu dengan energi solar panel.
Pada tahun 2024, SDN 02 Ngenden telah berpartisipasi dalam program UNS Eco-Friendly School Award (EFSA) dan berhasil meraih predikat Emas. Keberhasilan tersebut menjadi langkah awal yang penting dalam membangun budaya peduli lingkungan di lingkungan sekolah. Pada tahun 2025, SDN 02 Ngenden kembali mengikuti program EFSA. Kepala sekolah menyampaikan bahwa keberlanjutan program ini menjadi salah satu sumber motivasi bagi sekolah untuk terus menumbuhkan kesadaran serta rasa peduli lingkungan di kalangan peserta didik. Melalui program ini, para murid tidak hanya didorong untuk menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan, tetapi juga diajarkan untuk menerapkan nilai-nilai keberlanjutan dalam kehidupan sehari-hari. Lebih lanjut, kepala sekolah menegaskan bahwa partisipasi dalam EFSA juga memberikan dampak positif terhadap peningkatan prestasi sekolah. Salah satu wujud nyata dari kontribusi program ini adalah keberhasilan kepala sekolah SDN 02 Ngenden meraih peringkat ketiga Kepala Sekolah Berprestasi tingkat Provinsi Jawa Tengah. Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa implementasi program EFSA tidak hanya berdampak pada pembentukan karakter peduli lingkungan di kalangan siswa, tetapi juga mampu mendorong pengembangan kualitas sekolah secara menyeluruh.
Kunjungan sekolah terakhir dilakukan di SDN Beji, yang berlokasi di Desa Beji, Kecamatan Andong, Kabupaten Boyolali. Meskipun sekolah ini belum termasuk dalam kategori sekolah Adiwiyata, namun pengelolaan serta inovasi lingkungan yang dilakukan sudah cukup baik. Dalam pengelolaan sampah dan limbah, SDN Beji menerapkan pemanfaatan air wudu yang dialirkan ke kolam ikan. Sebelum dimanfaatkan, air wudu tersebut melewati kolam pengendapan terlebih dahulu sehingga dapat mengurangi beban pencemar. Selain itu, sekolah juga menghasilkan berbagai produk dari kebun sekolah yang bernilai jual, seperti sabun cuci tangan berbahan dasar lidah buaya, jamu dari tanaman herbal, serta bunga telang kering yang siap seduh. Inovasi lain yang diterapkan adalah pengurangan konsumsi energi listrik dengan memasang lampu tenaga surya sebagai pengganti sebagian penggunaan listrik PLN pada malam hari. Namun demikian, pengelolaan sampah plastik di sekolah ini masih tergolong kurang optimal karena sebagian besar sampah plastik masih dibakar secara langsung. Sebagai upaya perbaikan, sekolah telah menetapkan peraturan bahwa siswa dilarang membawa jajanan dengan wadah plastik dan dianjurkan untuk membawa wadah makanan sendiri. Selain itu, pihak sekolah juga bekerja sama dengan pedagang di sekitar lingkungan sekolah agar tidak menggunakan plastik sebagai wadah makanan.