Pada Rabu, 23 April 2026, Dharma Wanita Persatuan Universitas Sebelas Maret (UNS) menyelenggarakan kegiatan talk show dalam rangka memperingati Hari Kartini sekaligus Dies Natalis ke-50 UNS yang bertempat di Auditorium G.P.H. Haryo Mataram UNS. Acara ini diikuti oleh sekitar 200 peserta dan bertujuan untuk memperkuat komitmen terhadap kesetaraan gender, inklusivitas, serta pemberdayaan perempuan, termasuk peran strategis perempuan dalam upaya pelestarian lingkungan. Kegiatan ini menghadirkan Dra. Siti Nia Nurhasanah Sjarifudin sebagai narasumber, yang menjabat sebagai Staf Khusus Bidang Perempuan dan Politik di Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), dengan moderator Prof. Dr. Ir. Murtanti Jani Rahayu, S.T., M.T., Kepala Subdirektorat Green Campus & SDGs UNS.
Sebelum sesi talk show dimulai, terlebih dahulu disampaikan laporan oleh Ketua Dharma Wanita UNS. Dalam pemaparannya, Ketua Dharma Wanita Persatuan UNS, Ibu Widiastuti Hartono, menekankan bahwa perempuan sebagai agen perubahan memiliki kontribusi strategis dalam upaya pelestarian lingkungan. Ia menyampaikan harapan agar kegiatan ini dapat menghasilkan ide-ide inovatif sekaligus langkah konkret yang mendorong perempuan berperan sebagai penggerak utama dalam menjaga keberlanjutan lingkungan bagi generasi mendatang. Pandangan tersebut sejalan dengan komitmen global Sustainable Development Goals, khususnya terkait kesetaraan gender dan keberlanjutan lingkungan.
Pelaksanaan talk show berlangsung interaktif dan penuh kehangatan, dengan berbagai pengalaman inspiratif yang dibagikan oleh narasumber. Beberapa poin utama yang disampaikan antara lain:
1. Peran perempuan sebagai pendidik lingkungan dalam keluarga
Perempuan, khususnya ibu, merupakan pendidik pertama bagi anak. Mereka berperan dalam menanamkan kebiasaan positif seperti membuang sampah pada tempatnya, menggunakan tumbler dan tas belanja ramah lingkungan, serta mengajarkan penghematan air dan energi sejak dini. Kebiasaan ini berkontribusi dalam membentuk generasi yang memiliki kesadaran lingkungan.
👉 Mendukung SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dan SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim).
2. Peran perempuan dalam pengambilan keputusan konsumsi rumah tangga
Ibu memiliki peran dominan dalam menentukan pola konsumsi keluarga. Hal ini memungkinkan penerapan perilaku konsumsi yang lebih bertanggung jawab, seperti memilih produk ramah lingkungan, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, dan membeli sesuai kebutuhan.
👉 Mendukung SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab).
3. Peran perempuan sebagai pengelola dan pemilah sampah
Dalam kehidupan sehari-hari, ibu turut berperan dalam memilah sampah organik dan anorganik, mengolah limbah dapur menjadi kompos, serta mengelola barang yang dapat didaur ulang. Praktik ini selaras dengan prinsip pengelolaan sampah berbasis 3R (Reduce, Reuse, Recycle).
👉 Mendukung SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan) dan SDG 12.
4. Peran perempuan sebagai penggerak komunitas lingkungan
Selain di tingkat rumah tangga, perempuan juga berkontribusi dalam lingkup masyarakat melalui keterlibatan dalam kegiatan bank sampah, inisiatif kerja bakti, edukasi lingkungan, hingga pembentukan kelompok peduli lingkungan.
👉 Mendukung SDG 5 (Kesetaraan Gender) dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).
Secara keseluruhan, peran ibu dalam pengelolaan lingkungan berbasis rumah tangga tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga mencakup aspek edukatif, sosial, dan strategis. Dari lingkup keluarga hingga masyarakat, perempuan memegang peranan kunci dalam mewujudkan kehidupan yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan, sekaligus berkontribusi nyata dalam pencapaian berbagai target Sustainable Development Goals.